Senin, 13 Juni 2016

Sedekah pada pengemis

DN M. Sayyid:
Ippho Santosa & Tim Khalifah
Sedekah ke pengemis di jalanan, boleh nggak? Bisa ya, bisa nggak. Lho, kenapa?

Kita bicara blak-blakan ya. Begini. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, hampir semua pengemis sudah tersistem. Ya, tersistem. Dilindungi preman dan oknum pejabat. Ini beneran.

Kayak franchise saja, pengemis-pengemis ini diberi 'wilayah beroperasi' dan harus membayar 'royalti' ke preman tertentu. Lalu, preman ini nyetor lagi ke oknum pejabat. Ya, tuh oknum pejabat serasa master franchise.

Siklus kezaliman ini terlihat kasat mata di kota-kota besar. Bukan 'kata orang'. Terlihat bagaimana 'pihak manajemen' men-drop dan menjemput pengemis. Termasuk menyiapkan anak kecil untuk digendong. Saya sering sekali melihat prosesi ini di jalan-jalan.

Pernah memperhatikan bayi yang digendong itu? Selalu tidur pulas kan? Ya! Karena diberi obat tidur, obat bius, atau sejenisnya. Duh jahatnya. Logis saja, kebanyakan bayi akan rewel bila terkena terik matahari selama berjam-jam.

Asal tahu saja, pengemis biasa, tak akan bisa masuk seenaknya ke sebuah wilayah. Karena setiap wilayah sudah dipegang oleh preman dan oknum tertentu. Dengan kata lain, si pengemis hanya bisa beroperasi jika mau kongkalikong dengan preman dan oknum tersebut.

Sekiranya kita terus memberi dan 'memakmurkan' preman serta aparat tadi, maka kasihan sekali nasib bayi-bayi yang tak berdosa itu. Si pengemis? Mana mau tahu dia, toh itu bukan anaknya!

Pengemis ini, preman, dan oknum yang tersistem adalah sebuah kezaliman. Kalau kita sudah tahu dan masih saja memberi, berarti ikut memakmurkan kezaliman. Lain halnya kalau kita belum tahu.

Terlepas dari itu, di Semarang, ada pengemis yang punya deposito di atas Rp 100 juta. Di Surabaya, ada pengemis yang punya mobil CRV. Di Kalsel, ada pengemis yang punya sedan. Dan masih banyak lagi publikasi tentang pengemis yang sebenarnya tajir-tajir. Googling saja.

Begini. Setiap sedekah tentu akan berbalas. Tapi alangkah baiknya jika tepat sasaran dan tidak mengayakan para preman juga oknum pejabat. Kurang berkah juga kalau kita tetap bersedekah, di mana kita tahu persis uang sedekah itu selalu disalahgunakan. Pantaslah MUI dulu pernah tegas mengingatkan.

Kalau mau sedekah, via lembaga terpercaya dan teraudit saja. Seperti DD, ACT, RZ, PPPA, dll. Atau lembaga lain yang jelas track record-nya. Sebisa-bisanya BUKAN ke pengemis seperti kasus-kasus di atas. Dan tahukah Anda, ketika Ramadhan, income mereka bisa melesat tiga kali lipat!

Apabila kita lagi di jalan dan mau bersedekah, yah beli saja barang-barang dari pedagang kecil atau asongan. Kalau perlu, kasih lebih ke mereka. Jangan nawar. Masih mending mereka tho? Mau mengerahkan tenaganya. Menjaga harga dirinya. Nggak ngemis. Nggak melas.

Share ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa. —

Sabtu, 30 April 2016

Mbecek/kondangan

Kali ini pembahasan tntang kondangan...
Tepatnya malam ini 30-042016 saat kondangan nikahan di tempat sanak saudara.
Ketika mndengar kata kondangan pengantin pasti akan ada gambaran tentang amplop, kado,dsb...

Yaaa... stelah duduk berlama2 dan piringan soto yang manis karena kecap yang tertutup oleh krupuk udang yang lebar di kluarkan oleh para "laden"(sperti itu orang jawa menebutnya.apayaa bahasa indonesianya😊)
. Dansetelah selesai menghabiskan sporsi soto dan melanjutkan sedikit berbincang2 ibuku mengajak untuk berpamitan...
Dan kami semua (nenek q ortu q om tante paman bibi dan anak2, dan aq juga) berdiri dan menghampiri bibi q yang ber hajat itu. Karena sepupu q bersalam tempel dengan bibi q itu, akhirnya salam tempel q pun mendarat pula di tangan bibi q itu... (mungkin beliau sedikit bingung heran atau bagaimanalaah... karena aq tak menyadarinya... aku lanjutkan bersalaman biasa dengan si pengantin perempuan.. dan aku merasakan  cubitan kecil dari jari keriput ibuku dengan suara rendah ia berbisik kepadaku dalam bahasa jawa "bib, endii"  yamg berarti "mana" dan dengan terburu2 karena dan  belakangku sudah panjang antrean orang yang berpitan aq menjawab "sampuun" yang berarti "sudah" (jawa kromo inggil/jawa halus).. setelah keluar dari situ dan menuju tempat motor2 kami bertengger ibu ku bertanya dalam bahasa jawa yang artinya "kau salamkan siapa tadi amplopmu
"kenapa sebelum bersalaman dengan xxx(nama pengantin yang tak ingin ku publish namanya) sudah tidak ada di tangan mu??" Tanya ibu ku seperti menghardik anak kecil yang tertangkap basah mencuri di depan rumah.
Dengan santai aq menjawab kepada bibi...

Dan dengan nada lenih tinggi ibuku berkata "pa tesan aku tidak melihatmu memberikan amplop pada mempelainya... harusnya kau salamkan itu pada mempelainya... bukan pada bibi.Yang muda kepada yang muda dan yang tua le yang tua... Apa nanti fikiran si pengantin ngapain kamu ikut pasti kata itu yang akan di gerutukan karena ulahmuu...

Ya Allaaah... dalam hati aq engumpat tufak jelas...
ya aku kira karena adek(panggilan ku untuk sepupuku yang sebenarnya umurnya jauh diatasku dam dia anak dari adik ayah q) menyalamkan ke bibi ya sudah aku juga menyalamkan disana. Lagipula Aku kan baru pertama mrnyalamkan amplop ke pengantiin...(bukan pertama siih tepatnya yang ke dua hanya saja aku lupa kapan dan kepada siapa aku menyamkan amplop pengantin)

Kemudian sepupuku menjawab bahwa itu adalah amplop atas nama ibunya (yang menjadi tkw di Taiwan) dan dia juga menyalamkan amplopnya sendiri ke si pengantin...

Ya sudahlah pikirku.. ini kesalahanku memang... aku kan manusia biasa.. wajar lah kalau salah... tapi ketika aku mengabaikan itu dan menyimpan plajaran malam itu untuk kemudian hari, justru kaka sepupuku yang lain, nenek, dan bibi q menanhakan hal yang sama seperti yang di tanyakan oleh ibu ku padaku. Dan itu mereka tamyakan tidak bersamaan.. kakak sepupu saat akan berangkat pulang, nenekku saat beranjak ke motor paman dan ketika telah sampai di rah nenek bibi q masih. Enanyakan hal yang sama... dan mereka semua menghardikku... seolah aq telah melakukan tindak kejahatan kriminal... semua memarahiku (tidak memarahi siih.. hanya saja mengingatkan dengan nada tinggi dan bertubi2 dan terus menerus dan lama dan...) aku tidak suka di perlakukakn demikian.. bagiku itu terlalu berlebihan kenapa mereka tidak membiarkan aku dengan sedikit kata untuk mengingatkan dan membiarkanku menjadikan semua itu pelajaran.. bukan terus2an menghardik ku seperti ini yang membuatku ingi lari dan ingin menjadi tuna rungu saaja...

Itulah sedikit ceritaku (sedikit?? Entahlah apakah readers mrnyebut ini sedikit atau sangat sedikit.. hehehee) tenteng kondangan di acara pengantin...

Jumat, 15 April 2016

Kenangan terakhir putih abu2 sayangnya saat itu pakai pramuka

Siang itu sabtu 2 april 2016..
Kali prtama 8sahabat (aku salah satunya) untuk yg prtama berjabat tngan dngan
Tman laki2 se-angkatan... dngan ± 305 siswa kelas 12 yang terdiri dari 4 kelas IPA 4 kelas IPS dan 2 kelas AGAMA. Dan aq termasuk salah satu siswi di kelas 12 AGAMA 2...

Kami berjabat tangan di halaman upacara dngan mmbentuk lingkaran.. kami brpelukan brsalaman dan masih smpat kami bercubit ria (dngan sesama tman perempuan pastinyaa)..
Aku tak mrnyangka ini kan scepat ini... rasanya baru kemarin saja aku ikut MOS.. begitu cpat waktu berlalu..

Usai bersalaman.. ki seluruh kelas agama berfoto bersama di halaman Amphi Teater skolah.. kami membuat formasi huruf AGM dan karna di sebelah Amphi terdapat aula skolah yang luas dan terhubung dengan ruang guru bukan tidak mungkin banyak guru yang menyaksikan keceriaan kami ketika berfoto2 bersama. Akhirnya guru2 yang berniat mamlir malah ikut berfoto bersama kami...

Justru keceriaan kami di uji dengan hasil yang bagus... dari hasil foto yang bagus.. ada heroik di balik ini semua... teman kami dari Agama 1 dia susah payah naik ke dinding amphi..

Dibalik bagusnya foto terdapat teman yang mengusahakan dengan susah payah...😅

Ma'annajaah

Semoga keputusan yang akan aku pilih ini menjadi yang terbaik.. smoga bisa.. span-ptkin, UIN Sunan Kalijaga Jogja #fakultas_ilmu_dan_budaya
#sastra_danBahasa_Arab...

Klau llos tnggal cari kos... smoga baik2... smoga berkah